Jalan-jalan ke Ranah Minang

7 03 2011

Mungkin saya tidak akan membuat seluruh tempat wisata yang ada di ranah minang ini, saking banyaknya tempat yang menarik yang bisa anda singgahi. Akan tetapi saya akan menjelaskan beberapa tempat yang sering dikunjungi oleh wisatawan, baik lokal maupun asing. terutama yang ada di kota Padang dan Bukittinggi, serta juga perbatasan ranah minang yang paling utara yaitu Pasaman. Bukittinggi, bagi sebagian orang kota ini bukan sesuatu yang asing, tempat wisata yang terkenal adalah, Goa Jepang yang merupakan bukti sejarah pada zaman penjajahan dahulu. Lubang gunung yang berdinding batu keras ini panjangnya puluhan meter di bawah jln Raya Ngarai Sianok, memiliki rahasia dan keunikan tersendiri. Dengan rongga berbentuk setengah lingkaran yang rata-rata tingginya sekitar dua meter itu– kecuali beberapa rongga yang memaksa para pengunjung membungkuk untuk melewatinya—gua ini dulunya memiliki fungsi strategis bagi serdadu Jepang. Lorong masuknya sangat dalam dan panjang. Ada sekitar 128 anak tangga untuk turun ke bawah sebelum akhirnya para pengunjung melewati ruang demi ruang Goa Jepang itu. Laksana ”rumah semut tanah”, para pengunjung akan melewati beberapa lorong gua yang bercabang-cabang. Didalamnya Ada 12 barak militer, 12 tempat tidur, 6 buah ruang amunisi, dua ruang makan romusha dan satu ruang sidang. Yang unik adalah, karena lorong gua ini punya beberapa saluran untuk ke atas tanah, beberapa lorong dipakai sebagai lorong penyergapan dan pengintaian bagi para penduduk – Indonesia. Jam Gadang
Konon, Goa Jepang ini masih berhubungan dengan jalan yang menuju Jam Gadang. Simbol khas Sumatera Barat ini pun memiliki cerita dan keunikan karena usianya yang sudah puluhan tahun.
Jam Gadang dibangun pada tahun 1926 oleh arsitek Yazin dan Sutan Gigi Ameh. Peletakan batu pertama jam ini dilakukan putra pertama Rook Maker yang saat itu masih berumur 6 tahun.
Jam ini merupakan hadiah dari Ratu Belanda kepada Controleur (Sekretaris Kota). Dulu, jam ini berbentuk bulat dan di atasnya berdiri patung ayam jantan di masa Belanda, dan berbentuk klenteng pada masa Jepang. Pada masa kemerdekaan, bentuknya berubah lagi menjadi ornamen rumah adat Minangkabau.

-baca selengkapnya>





Winnetou, Fiktif dan Realita Bergabung

7 03 2011

Saya pernah membaca buku karangan karl may dengan judul winnetou ini, saya hanya membaca winnetou II. Bagi saya pertama kali melihat buku ini terkesan biasa saja, kulit bukunya yang berwarna kehijauan, tidak memberikan kesan yang menarik, ditambah dengan khas indian. Namun ternyata buku itu mampu membuat saya terkejut dengan jalan ceritanya. Buku indian yang menggabungkan antara kehidupan pribadi pengarang, dengan sebuah cerita, lengkap dengan peta perjalanan yang menelusuri perjalanan indian yang bernama winnetou itu.

-baca selengkapnya>





Persepsi Sejarah

7 03 2011

Berbicara masalah sejarah, berarti kita melihat kebelakang, mungkin saya termasuk orang yang suka melihat apa yang telah terjadi ke belakang. Terkadang ada celotehan atau mungkin sindiran dari beberapa teman saya, mengapa harus belajar sejarah, itukan masa lampau dan tidak akan perlu lagi untuk kedepan. Hal itu yang paling sering saya terima dari sejumlah teman-teman saya. Namun saya hanya tersenyum ketika orang itu berbicara. Namun pernah satu kali saya berdebat habis dengan orang yang saya anggap terlalu meninggikan diri dengan kenyataan lain. menganggap apa yang pernah terjadi masa lalu adalah hal yang tidak mesti diungkit lagi, dan harus ditinggalkan. Bagi saya itu suatu kebodohan yang nyata. Karena apa, seseorang tidak akan bisa mengenal siapa dan untuk apa dia jika tidak mengenal masa lampau. Bagi saya ia bagaikan seorang katak dalam tempurung, memandang dunia hanya sebatas pandangan dia saja yach… mungkin ini sedikit sindiran. Sejarah itu mempunyai sifat yang tidak bisa ditiru oleh ilmu lain, yaitu unik dan hanya terulang satu kali saja.

-baca selengkapnya>





Dilema Gadih Minang

7 03 2011

Berbicara masalah perempuan atau wanita, seolah tidak pernah habis dan putus-putusnya. Wanita adalah sosok fenomenal yang selalu menjadi topik utama. Namun saat ini bila melihat posisi wanita, atau dalam bahasa minangnya “Padusi atau gadih” menjadi pro dan kontra bagi mayoritas banyak. Di satu sisi, gadis minang dituntut untuk terus melekatkan adat yang dibawanya tanpa adanya perubahan. Memakai jeans, memakai baju ketat, adalah pantangan yang sangat nyata bagi tokoh-tokoh adat. Bahkan kalau bisa setiap hari gadih minang diwajibkan memakai baju kurung. Namun jika melihat situasi yang dihadapi, dalam globalisasi yang semakin hari semakin menjalar ke dalam masyarakat, termasuk gadih minang, karir ataupun masa depan juga harus dituntut bagi perempuan minang.

-baca selengkapnya>